Perusahaan Penyedia Sertifikasi

Mengenal Sertifikasi cisco

cisco merupakan perusahan yang bergerak dalam bidang infrastruktur jaringan komputer khususnya memang pada perangkat yang sampai saat ini paling handal dibanding dengan produk perangkat jaringan komputer lainnya dan sekarang merupakan perushaan yang paling unggul dibidang penyedia perangkat infrastuktur jaringan komputer. Walaupun awalanya menurut sejarahnya perusaan ini dibuat oleh pasangan suami istri kalau tidak salah pasangan Len dan Sandy Bosack yang bekerja di Universitas Stanfor yang dulunya hanya menginginkan adanya perangkat jaringan komputer yang bisa menghubungkan antara jaringan komputer yang berbeda. Dibuatlah sebuah server gateway yang memungkinkan kedua jaringan komputer yang berbeda dapat berkomunikasi dengan menggunakan protocol IP. Awalnya memang iseng-iseng aja, namun 4 tahun setelah itu pasangan ini coba jualan produk mereka dan ternyata laku juga yang sekarang menjadi produk networking yang paling handal.

 

Ketika pertama kali, mereka menamakan perushaan mereka dengan San Francisco System, namun isunya ketika akan dipatenkan menjadi sebuah perusahaan, kertasnya tersobek dan yang tersisa hanya tulisan cisco system, Inc. Makanya standarnya penulisan awal kata cisco menggunakan huruf kecil. Tapi nggak jelas juga sih benar atau tidaknya. Yang pasti digunakan nama cisco system, Inc mulai tahun 1992-an. Logo yang digunakan juga melambangkan jembatan San Francisco. Coba deh perhatikan . Berikut gambar jembatan sun Francisco hasil Googling.

 

Farncisco gateway

 

jmbatn.PNG

Berikut logo cisco versi lama dan yang terbaru.

ciscologo-old.jpg ciscologo-new1.jpg

 

Beberapa contoh produk cisco :

c1.jpg c2.jpgc3.jpg

Bukan hanya perangkat jaringan komputer, cisco juga mengeluarkan standar kompetensi untuk sumber daya manusia yang berhubungan dengan perusahaan ini atau dinamakan sertifikasi bukan hanya sekedar sertifkasi cisco juga membuat sistem academy untuk pembelajarannya. Sertifikasi cisco merupakan sertifikasi yang paling dijadikan referensi dalamdunia jaringankomputer.Ada 3 jenis sertifikasi, pertama serining disebut ciscopath  1. Three level of IT CertificationAda 3 Level secara umum:Level Associate

  • CCDA Certification (Cisco Certified Design Associate)
  • CCNA Certification (Cisco Certified Network Associate)
  • CCENT Certification ( Cisco Certified Entry Networking Technician )

Level Professional

  • CCDP Certification ( Cisco Certified design Professional)
  • CCIP Certification ( Cisco Certified Internetwork Professional )
  • CCNP Certification ( Cisco Certified Network Professional )
  • CCSP Certification ( Cisco Certified Security Professional )
  • CCVP Certification ( Cisco Certified Voice Professional )

Level Expert

  • CCDE Certification ( Cisco Certified Design Expert )
  • CCIE Certification ( Cisco Certified Internetwork Expert )

2. Six Different PathSertifikasi yang lebih focus pada specialisasi ada 6 katagori

  • Advanced Routing and Switching
  • Data Center Certifications
  • Foundation for Channel Partners
  • IP Communications Certifications
  • VPN and Security Certifications
  • Wireless LAN Certifications

3. IT Certification in Focus Area

Pada dasaranya tambahan dari sertifkasi cisco secara umum pada level profesional namun seertifikasinya lebih difocuskan pada specialisasi pada satu teknologi misalnya Security, IP Telephone dan wireless. CCSP ( Cisco Certified Security Professional) yang untuk mendapatkan sertifkasi ini harus ujian beberapa core di ujian specialis. Akan dibahas pada artikel bagaimana mendapatkan CCSP.

Manajemen Resiko Beserta Contohnya

MANAJEMEN RISIKO 

 
FALSAFAH COSO
Makalah ini terfokus pada risiko auditor internal dan eksternal umumnya, audit laporan keuangan (LK) khususnya, dan lebih khususnya lagi pada risiko akuntan publik.
Bagi COSO, pengukuran-penetapan risiko adalah kegiatan penting bagi manajemen dan auditor internal korporasi, sehingga auditor internal harus paham proses dan sarana untuk identifikasi, penilaian, pengukuran dan penetapan tingkat risiko (risk assessment) sebagai dasar menyusun prosedur audit internal. COSO menyatakan bahwa setiap entitas menghadapi risiko internal dari luar, bahwa risiko-risiko tersebut harus didentifikasi dan dinilai-diukur terfokus pada pengamanan sasaran strategis korporasi.
Perubahan sosial-politik-ekonomi-industri-hukum dan perubahan kondisi operasional perusahaan teraudit mengandung risiko, manajemen perusahaan harus membentuk mekanisme untuk mengenali & menghadapi perubahan tersebut. Basis utama manajemen risiko adalah asesmen risiko. Untuk keberlangsungan usaha, asesmen risiko merupakan tanggungjawab manajemen yang bersifat integral dan terus menerus, karena manajemen tak dapat memformulasikan sasaran dengan asumsi sasaran akan tercapai tanpa risiko atau hambatan.
Contoh risiko, bahaya, ancaman, atau hambatan mencapai sasaran korporasi adalah :
  • Pesaing meluncurkan produk baru
  • Perubahan teknologi menyebabkan jasa atau produk tidak laku
  • Manajer andalan tiba-tiba mengundurkan diri sebagai karyawan
  • Formula rahasia dicuri dan dijual oleh karyawan kepada pesaing
  • KKN menggerus laba dan membuat perusahaan keropos
PENGGUNA HASIL PENILAIAN-PENETAPAN RISIKO
Analisis risiko digunakan untuk mengurangi risiko, makin kecil risiko maka makin besar kemungkinan meraih sasaran korporasi. Berbagai yurisdiksi hukum meminta setiap bank melakukan penilaian-risiko dan mengumumkan kondisi pengendalian internal kepada publik, auditor eksternal diwajibkan membuat atestasi tentang pernyataan bank tersebut & kondisi pengendalian internal bank, untuk melindungi deposito publik. Otoritas Pasar Modal AS (SEC) meminta semua emiten membuat Laporan Penilaian Risiko sejak 1979 untuk melindungi kepentingan  investor. SAS 55 AICPA menyatakan bahwa auditor eksternal bertanggungjawab untuk memperoleh & memahami sistem pengendalian audit laporan keuangan. Akuntan publik juga membuat asessmen risiko terkait perencanaan audit LK, untuk mendeteksi risiko kegagalan auditor mencapai sasaran audit, untuk menentukan metode pengujian yang tepat menuju sasaran audit, antara lain perencanaan sampling dan penggunaan teknik audit secara tepat. Auditor internal harus selalu bertanya “Hal-hal apa saja yang mungkin tidak berjalan sesuai rencana?”, mengidentifikasi potensi kesalahan, menengarai gejala ketidakwajaran segala sesuatu yang memberi tanda-tanda bahaya atau tanda-tanda risiko. Auditor internal melakukan asesmen risiko untuk meyakini bahwa sarana-pengendalian tertentu masih berfungsi efektif.
PERENCANAAN ASESMEN RISIKO
Perencanaan audit internal harus berbasis pengetahuan akan risiko kegagalan organisasi dalam mencapai tujuan. Perencanaan strategis perusahaan mencakupi pertimbangan risiko kegagalan organisasi. Manajemen risiko berpengaruh pada perencanaan audit. Auditor melakukan evaluasi kendali internal sebagai sarana penghindaran risiko.
PERLUASAN AUDIT BERBASIS RISIKO
Pada awalnya, kegiatan audit dimulai dengan observasi terhadap control (pengendalian), analisis pengendalian, disusul kegiatan analisis risiko tiap jenis operasi korporasi tersebut dan analisis keselarasan aktivitas dengan sasaran korporasi.
Perluasan Audit Berbasis Risiko mencakupi kegiatan identifikasi, pengukuran dan analisis risiko, lalu memilih aktivitas strategis terkait manajemen risiko sbb:
  1. Mengendalikan risiko, aktivitas pengurangan risiko, besar risiko, jumlah  risiko atau frekuensi terjadinya risiko
  2. Menerima risiko dan/atau risiko residual (setelah segala upaya mitigasi risiko dilakukan)
  3. Menghindari risiko, merancang ulang proses bisnis yang tak berkonsekuensi risiko tertentu
  4. Pembagian risiko, pembelahan risiko, memikul risiko beramai-ramai (risk sharing) atau transfer risiko ke unit organisasi lain (bagian lain) atau pihak ketiga (di luar korporasi) yang lebih mampu mengelola-mengendalikan risiko tersebut
AUDIT INTERNAL DAN MANAJEMEN RISIKO
Tugas auditor internal antara lain adalah meng-audit risiko; melakukan evaluasi risiko, mengusulkan pendirian manajemen risiko sambil menjelaskan manfaat manajemen risiko, atau menyatakan dukungan atas program manajemen risiko. Auditor internal menerima instruksi & bagian peran audit internal dalam manajemen risiko dari Dewan Audit atau Komite Audit, agar secara independen auditor mengevaluasi manajemen risiko dan program memerangi risiko. Auditor internal pada umumnya bersikap abstain untuk manajemen risiko departemen auditor internal sendiri, kecuali diminta Dewan Audit untuk melakukan self-assessment.
RISIKO AUDIT LAPORAN KEUANGAN
Persoalan auditor eksternal sebagai berikut berlaku bagi auditor internal yang mengaudit Laporan Keuangan; bahwa risiko auditor terbesar adalah tak mengetahui (gagal untuk mengetahui) hal-hal yang seharusnya mengubah opini auditor terhadap Laporan Keuangan yang mengandung salah-saji secara material. Auditor harus memertimbangkan sifat & kualitas manajemen, sifat industri, sifat operasi, dan bentuk atau sifat penugasan auditor eksternal.
Sebagai contoh, sifat dan kualitas manajemen yang mengandung risiko audit adalah
  • Keputusan manajemen ditangan satu orang, misalnya CEO merangkap PS utama
  • Manajemen bersikap amat agresif terhadap pelaporan LK (laporan keuangan, misalnya perusahaan publik dan bank butuh opini WTP dari Audit Eksternal)
  • Mutasi manajemen amat tinggi
  • Manajemen amat berkepentingan utk mencapai proyeksi laba
  • Reputasi buruk manajemen di mata publik
Sebagai contoh, sifat Industri dan operasi yang mengandung risiko audit adalah
  • Kemampulabaan entitas dibawah rerata kemampulabaan industri sejenis
  • Laba tidak konsisten
  • Kinerja amat dipengaruhi faktor eksternal
  • Entitas berada dalam industri turun-daun
  • Desentralisasi kekuasaan tidak dilengkapi penguatan pengendalian
  • Entitas kelihatannya tidak akan going concern
Sebagai contoh, sifat penugasan audit yang mengandung risiko audit laporan keuangan adalah
  • Banyak perkecualian, banyak isu akuntansi
  • Banyak transaksi atau saldo sulit di audit
  • Banyak transaksi hubungan istimewa yang tidak lazim
  • Sejarah salah saji, sejarah temuan audit jenis-kesalahan-berulang.
Untuk mengurangi risiko, auditor wajib mendapatkan asersi LK berupa pernyataan (semacam pernyataan jaminan) manajemen (management representation) tentang (1) eksistensi, (2) kelengkapan, (3) hak dan kewajiban, (4) evaluasi dan alokasi, (5) penyajian dan pengungkapan berbagai akun dan pos penting Laporan Keuangan.
Sebagai misal, risiko audit pada tataran saldo akun catatan akuntansi, pos laporan keuangan dan kelompok transaksi sejenis adalah
  • Salah saji akun tersebut
  • Salah saji akun tersebut dalam kaitan dengan akun lain (inherent risk atau control risk)
  • Risiko bahwa auditor gagal menemukan salah buku dan atau salah saji yang ada (detection risk).
Pada standar auditing, pertimbangan auditor dalam evaluasi risiko saldo akun dan jenis transaksi, misalnya adalah
  • Dampak risiko-teridentifikasi pada laporan keuangan.
  • Kerumitan isu akuntansi
  • Frekuensi transaksi sulit-diaudit.
  • Temuan salah-saji pada audit terdahulu.
  • Kemungkinan salah apropriasi aset.
  • Kualitas SDM proses-data.
  • Unsur pertimbangan dalam penetapan saldo akun.
  • Besar suatu pos dalam neraca.
  • Kerumitan kalkulasi tertentu.
RISIKO INHEREN
Risiko salah saji laporan keuangan terkait risiko bawaan karena jenis bisnis, jenis industri, jenis operasi khas industri tersebut dan risiko salah saji karena pengendalian internal lemah atau tidak ada.
Sebagai contoh:
  1. Valuasi piutang dagang, asersi keberadaan piutang dagang oleh manajemen, terkait kecemasan auditor tentang going concern.
  2. Kalkulasi beban pensiun, metode penyusutan aset tetap dan kalkulasi beban penyusutan aset tetap
  3. Kas lebih rentan pencurian dibanding persediaan.
  4. Perubahan teknologi menyebabkan aset tetap padat teknologi harus di hapus-buku lebih cepat lantaran ketinggaalan teknologi.
  5. Lapping banyak terjadi pada industri perbankan, dana pensiun, asuransi. KKN pada akun tabungan berjangka lebih banyak terjadi pada demand deposit.
  6. Berbagai perusahaan memilih tak menggunakan pedoman sistem & prosedur (tertulis & kaku) untuk meningkatkan kreativitas dan layanan pelanggan.
  7. Moral, standar etika, misalnya uang tip boleh diterima, itu rezeki anda, merupakan risiko budaya.
RISIKO PENGENDALIAN
Risiko peengendalian mencakupi risiko salah saji laporan keuangan tak tercegah atau tak tertemukan pada bingkai waktu tertentu oleh struktur pengendalian internal, kebijakan atau prosedur. Berbagai control risk selalu ada karena keterbatasan inheren dari struktur pengendalian internal. Bila kebijakan dan prosedur tak berjalan efektif, maka auditor melakukan penilaian control risk sebanyak mungkin, dengan catatan bahwa biaya pengendalian risiko harus lebih kecil dari manfaat pengendalian risiko. Pada umumnya, pengendalian inheren tak mampu membuat risiko menjadi 0%, diperangi atau dikurangi dengan strategi-sistem-prosedur terkait control risk. Control risk dirancang utk menekan risiko-residual tersebut sedapat-dapatnya, lalu sisa risiko selanjutnya menjadi tugas strategi deteksi, sistem-prosedur deteksi penyimpangan, KKN dan salah saji material.
RISIKO DETEKSI
Risiko deteksi berbentuk risiko auditor tak mampu mendeteksi salah-saji-material yang sebetulnya ada.
Risiko deteksi muncul karena
  1. Auditor tak memeriksa 100% saldo akun-akun.
  2. Ketidakpastian, kesalahan merancang prosedur audit, salah terap prosedur audit, salah tafsir terhadap hasil audit.
HUBUNGAN ANTAR RISIKO
Hubungan risiko terformula standar audit adalah bahwa audit risk = inherent risk X control risk X detection risk,dimana Detection Risk = Audit Risk/(Inherent Risk X Control Risk), dan Inherent risk dan control risk terjadi di luar kekuasaan auditor.
Auditor hanya dapat mengurangi detection risk, makin besar inherent risk dan control risk, makin besar bukti audit (audit sampling, observasi dll) harus dikumpulkan. Sebagai catatan pemakalah, program audit untuk deteksi salah saji material mirip dengan fraud auditing, prosedur dirancang berbasis kecurigaan salah saji, jumlah sample diperbanyak (sampai 100% atau full audit) pada wilayah kecurigaan tersebut.
Inherent risk terkait pada
  • Jenis bisnis, jenis industri
  • Jenis aktivitas, rantai nilai
  • Gaya manajemen
  • Iklim / atmosfer manajemen
Sebagai misal, bagi BPKP sebagai internal auditor NKRI :
  • Dua Pemda pada dasarnya mempunyai inherent risk serupa, karena keduanya adalah daerah otonom sederajat.
  • Inherent risk menjadi berbeda karena : Pemda A mempunyai Kepala Pemda yang kuat, bersih dan professional, mempunyai DPRD yang lemah, rakyat yang antusias memberi kritik dan membantu Pemda. Pemda B mempunyai Kepala Pemda yang lemah, DPRD yang kuat, dan rakyat yang apatis.
RISK INVENTORY
Daftar risiko paripurna diperoleh dari konsolidasi pengorganisasian manajemen risiko sebagai kerangka dasar risiko bagi seluruh korporasi.
Sebagai contoh, external risk inventory mencakupi antara lain
  • Risiko lingkungan
  • Kemungkinan bencana alam
  • Pasar uang
  • Rating
Sebagai contoh, internal risk inventory antara lain adalah
  • SDM
  • Integritas
  • IT
  • Akuntansi dan pelaporan
  • Keuangan
Auditor wajib membuat top minds of risks melalui rating risiko, pembuatan daftar risiko terbesar, ancaman terbesar yang harus dipertimbangkan pada penyusunan rencana strategis, diikuti pemutahiran risk inventory secara berkala. Auditor wajib membuat daftar pemicu risiko menjadi kenyataan-bencana. Direksi korporasi wajib memberi  fasilitas diskusi risiko bisnis, membangun infrastruktur pemantau risiko bisnis, membangun sistem identifikasi jenis baru risiko. Auditor internal harus bersikap proaktif terhadap risiko, jangan mengandalkan deteksi risiko telah (terlanjur) menjadi kenyataan, menjamin bahwa jumlah SDM pakar risiko harus seimbang dengan besar & kerumitan korporasi.
PERTANYAAN DASAR AUDITOR TENTANG RISIKO
  • Apa temuan audit terdahulu?
  • Berapa lama audit terdahulu terakhir dilakukan?
  • Berapa sering audit terdahulu dilakukan?
  • Perubahan mendasar apa saja yang terjadi pada sistem tata cara kerja?
  • Perubahan mendasar apa saja terjadi pada manajemen SDM dan kualitas SDM korporasi?
  • Perubahan mendasar produk/jasa utama yang mengubah risiko korporasi?
  • Bagaimana perbandingan nilai rupiah biaya & sarana pengendalian internal dengan nilai rupiah aset yang dikendalikan?
  • Berapa besar volume transaksi, frekuensi transaksi utama?
  • Berapa likuid dan/atau luwes (fleksibel) seluruh aset korporasi?
  • Bagaimana kesehatan pemisahan pekerjaan, tugas, dan tanggungjawab departemental dan individu?
  • Berapa besar pengaruh manajemen informasi terhadap sukses kegagalan korporasi?
  • Berapa besar tekanan pencapaian target penjualan, laba, dividen dan kewajiban pertumbuhan semua itu?
  • Bagaimana ketat-longgar peraturan per UU berdampak pada korporasi?
  • Berapa sering terjadi kasus pelanggaran etika?
  • Berapa tinggi tingkat pengetahuan, keterampilan, pengalaman untuk setiap tugas strategis dalam korporasi, yang menyulitkan manajemen SDM?
  • Siapa saja bertugas sebagai wakil perusahaan menghadapi pelanggan, pemasok, pemerintah & pengawas perusahaan?
  • Berapa rumit dan canggih kegiatan operasional perusahaan?
  • Berapa besar pengaruh LK Auditan terhadap sentimen harga saham, citra perusahaan dan pemangku kepentingan  kepada perusahaan.
CONTOH PRAKTIK STRATEGI MANAJEMEN RISIKO
Evaluasi risiko adalah tugas integral dari auditor internal, risiko menurut kelompok probabilitas terjadinya. Auditor menentukan jenis risiko, tingkat risiko, audit program berbasis risiko dan melakukan audit sub-proses kunci, fungsi kunci, aktivitas kunci. Risiko bisnis-bisnis universal  terkait auditing adalah sbb :
The business risks are :
Impact
1.      Erroneous Financial Records
Financial statements and financial management records, recording, classification value, or time.
2.      Unacceptable Accounting Principles
Procedures inconsistent with accounting standards or inappropriate to the circumstances.
3.      Business Interruption
Significant impairment to ability to provide service or to function.
4.      Government Criticism or Legal Action
Penalties brought by judicial, regulatory, or government authorities.
5.      Excessive Costs
Any expenditures, capital or expense, that could have been avoided or lessened.
6.      Deficient Revenues
Loss of income or compensation to which entitled. Market share.
7.      Destruction or Loss of Assets
Reduction in value or loss of facilities, equipment, material, cash, or claims to monies or data.
8.      Competitive Disadvantage and Public / Customer Dissatisfaction
Inability to remain abreast of demands of the marketplace or to respond effectively to competitive challenge.
9.      Fraud and Conflict or interest
Intentional abuse of policies, rules or ethics, or erosion of basic honesty.  Monetary aspects or misleading information.
10.  Erroneous Management    Policies or Decisions
Integrity of information for management decision-making causing inappropriate planning, organizing, directing, etc.

Sertifikasi menjadi Seorang Auditor IT

CISA (Certified Information Systems Auditor) Exam Preparation

Certified Information Systems Auditor (CISA) adalah sertifikasi untuk auditor Sistem Informasi yang diakui di tingkat Internasional yang disponsori oleh ISACA. ISACA mengontrol dan mengelola ujian CISA di seluruh dunia.

Pada training ini, peserta akan belajar mengenai audit, kontrol dan keamanan Sistem Informasi untuk menjadi auditor Sistem Informasi (IS auditor) yang profesional. Training ini juga bertujuan untuk mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian sertifikasi CISA.

IS auditor pada dasarnya bukan untuk memperbaiki masalah, tetapi melaporkan temuan setelah menggunakan proses investigasi yang terstruktur. Oleh sebab itu, anda dengan berbagai profesi yang beragam tidak perlu khawatir untuk memperoleh sertifikasi CISA karena:

  1. Ujian CISA bukanlah ujian keamanan Teknologi Informasi. Kandidat akan diharapkan memahami konsep dasar dan terminologi apa yang akan diaudit sehingga pengetahuan keamanan saja tidak akan membantu dalam kelulusan ujian.
  2. Ujian CISA bukanlah ujian auditor . Kandidat tidak diharapkan menjadi teknisi akuntan maupun melaksanakan transaksi yang kompleks.
  3. Ujian CISA bukanlah ujian teknisi komputer. Kandidat tidak diharapkan untuk membangun komputer maupun mengkonfigurasi perangkat jaringan. Kandidat hanya diharapkan untuk memahami terminologi secara umum.

CONTENT

1. The Process of Auditing Information Systems

1.1 Management of the IS Audit Function
1.2 ISACA IS Audit and Assurance Standards and Guidelines
1.3 Risk Analysis
1.4 Internal Controls
1.5 Performing an IS Audit
1.6 Control Self-assessment
1.7 The Evolving IS Audit Process
2. Governance and Management of IT

2.1 Corporate Governance
2.2 Governance of Enterprise IT
2.3 Information Systems Strategy
2.4 Maturity and Process Improvement Models
2.5 IT Investment and Allocation Practices
2.6 Policies and Procedures
2.7 Risk Management
2.8 Information Systems Management Practice
2.9 IS Organizational Structure and Responsibilities
2.10 Auditing IT Governance Structure and Implementation
2.11 Business Continuity Planning
2.12 Auditing Business Continuity
3. Information Systems Acquisition, Development, and Implementation

3.1 Benefits Realization
3.2 Project Management Structure
3.3 Project Management Practice
3.4 Business Application Development
3.5 Business Application Systems
3.6 Development Methods
3.7 Infrastructure Development/ Acquisition Practices
3.8 Information Systems Maintenance Practices
3.9 System Development Tools and Productivity Aids
3.10 Process Improvement Practices
3.11 Application Controls
3.12 Auditing Application Controls
3.13 Auditing System Development, Acquisition and Maintenance
4. Information Systems Operations, Maintenance and Support

4.1 Information System Operations
4.2 Information Systems Hardware
4.3 IS Architecture and Software
4.4 IS Network Infrastructure
4.5 Auditing Infrastructure and Operations
4.6 Disaster Recovery Planning
5. Protection of Information Assets

5.1 Importance of Information Security Management
5.2 Logical Access
5.3 Network Infrastructure Security
5.4 Auditing Information Security Management Framework
5.5 Auditing Network Infrastructure Security
5.6 Environmental Exposure and Controls
5.7 Physical Access Exposures and Controls
Prerequisites

Profesional IT
Profesional
Auditor Internal/ Eksternal

 

Framework Sistem Informasi selain COBIT

ZACHMAN FRAMEWORK

ZACHMAN FRAMEWORK
Zachman Framework merupakan framework arsitekural yang paling banyak dikenal dan diadaptasi. Para arsitek data enterprise mulai menerima dan menggunakan framework ini sejak Zachman pertama kali mempublikasikan artikel deskpripsi kerangka kerja di IBM System Journal pada tahun 1987.
 
Gambar 1 : Zachman Framework Detail
Zachman Framework merupakan matrik 6×6 yang merepresentasikan interseksi dari dua skema klasifikasi – arsitektur sistem dua dimensi. Pada dimensi pertama, Zachman menggambarkannya sebagai baris yang terdiri dari 6 perspektif yaitu :
1.    The Planner Perspective (Scope Context) : Daftar lingkup penjelasan unsur bisnis yang dikenali oleh para ahli strategi sebagai ahli teori.
2.    The Owner Perspective (Business Concept) : Model semantik keterhubungan bisnis antara komponen-komponen bisnis yang didefenisikan oleh pimpinan eksekutif sebagai pemilik.
3.    The Designer Perspective (System Logic) : Model logika yang lebih rinci yang berisi kebutuhan dan desain batasan sistem yang direpresentasikan oleh para arsitek sebagai desainer.
4.    The Builder Perspective (Technology Physics) : Model fisik yang mengoptimalkan desain untuk kebutuhan spesifik dalam batasan teknologi spesifik, orang, biaya dan lingkup waktu yang dispesifikasikan oleh engineer sebagai builder.
5.    The Implementer Perspective (Component Assemblies) : Teknologi khusus, tentang bagaimana komponen dirakit  dan dioperasikan, dikonfigurasikan oleh teknisi sebagai implementator.
6.    The Participant Perspective (Operation Classes) : Kejadian-kejadian sistem berfungsi nyata yang digunakan oleh para teknisi sebagai participant.
Untuk dimensi kedua, setiap isu perspektif membutuhkan cara yang berbeda untuk menjawab pertanyaan fundamental : who, what, why, when, where and how. Setiap pertanyaan membutuhkan jawaban dalam format yang berbeda. Zachman menggambarkan setiap pertanyaan fundamental dalam bentuk kolom/ fokus.
1.    What (kolom data) : material yang digunakan untuk membangun sistem (inventory set).
2.    How (kolom fungsi) : melaksanakan aktivitas (process transformations).
3.    Where (kolom jaringan) : lokasi, tofografi dan teknologi (network nodes).
4.    Who (kolom orang) : aturan dan organisasi (organization group).
5.    When (kolom waktu) : kejadian, siklus, jadwal (time periods).
6.    Why (kolom tujuan) : tujuan, motivasi dan inisiatif (motivation reason).
Untuk setiap cell pada matrik yang merupakan persimpangan antara presfektif dan fokus haruslah khas dan unik. Karena setiap cell menggambarkan setiap target tertentu. Berikut ini penjelasannya:
 
Contextual
  1. (Why) Goal List – tujuan utama organisasi
  2. (How) Process List – daftar semua proses yang diketahui
  3. (What) Material List – daftar semua entitas organisasi yang diketahui
  4. (Who) Organizational Unit & Role List – daftar dari semua unit organisasi, sub unit, dan pengidentifikasian pengguna
  5.  (Where) Geographical Locations List – lokasi sangat penting untuk organisasi, bias menjadi besar dan kecil
  6.  (When) Event List – daftar trigger dan cycle penting untuk organisasi
Conceptual
  1. (Why) Goal Relationship Model – mengidentifikasi tingkatan dari tujuan yang mendukung tujuan utama
  2. (How) Process Model – menyediakan deskripsi proses, proses input, proses output
  3. (What) Entity Relationship Model – mengidentifikasi dan mendeskripsikan pengelolaan material dan hubungannya
  4. (Who) Organizational Unit & Role Relationship Model – mengidentifikasi peran perusahaan dan unit dan hubungan antara keduanya
  5. (Where) Locations Model – mengidentifikasi lokasi perushaan dan hubungan antar keduanya
  6. (When) Event Model – mengidentifikasi dan mendeskripsikan kejadian dan siklus yang berhubungan dengan waktu
Logical
  1. (Why) Rules Diagram – mengidentifikasi dan mendeskripsikan aturan-atuaran yg menerapkan batasan – batasan pemrosesan dan entitas-entitas tanpa memperhatikan implementasi fisik atau teknis
  2. (How) Process Diagram – mengidentifikasi dan mendeskripsikan transisi proses dinyatakan sebagai  ungkapan kata kerja tanpa memperhatikan implementasi fisik dan teknis
  3. (What) Data Model Diagram – mengidentifikasi dan mendeskripsikan entitas dan hubungannya tanpa memperhatikan implementasi fisik dan teknis
  4. (Who) Role Relationship Diagram – mengidentifikasi dan mendeskripsikan peran-peran dan hubungannya ke peran yg lain sesuai tipe-tipe deliverable tanpa memperhatikan implementasi fisik dan teknis
  5. (Where) Locations Diagram – mengidentifikasi dan mendeskripsikan lokasi yang digunakan untuk mengakses, memanipulasi dan transfer entitas dan pemrosesan tanpa memperhatikan implementasi fisik dan teknis
  6. (When) Event Diagram – mengidentifikasi dan mendeskripsikan keadaan yang berhubungan dgn kejadian yg lain pada sequence , siklus kemunculan dengan dan antara even – even, tanpa memperhatikan implementasi fisik dan teknis
Physical
  1. (Why) Rules Specification – diekspresikan dalam bahasa formal; terdiri dari aturan nama dan logika terstruktur untuk menentukan dan menguji keadaan aturan
  2. (How) Process Function Specification – diekspresikan dalam bahasa teknologi tertentu, elemen-elemen proses hirarkis berhubungan dengan pemanggilan proses
  3. (What) Data Entity Specification – diekspresikan dalam format teknologi khusus, setiap entity didefinisikan dengan nama,deskripsi,dan atribut; menampilkan hubungan
  4. (Who) Role Specification – mengekspresikan peran- peran dalam melakukan kerja dan komponen alur kerja pada level spesifikasi kerja produk yg terperinci
  5. (Where) Location Specification – mengepresikan komponen – komponen infrastruktur fisik dan koneksinya
  6. (When) Event Specification – mengekspresikan transformasi suatu keadaan – keadaan even terhadap minat ke perusahaan
Detailed Representation
Secepatnya ruang-ruang dengan representasi terperinci memberikan aturan –aturan detil untuk(apa); detil proses untuk(bagaimana); detil data untuk(apa); detil peran untuk(siapa);detil lokasi untuk(dimana); dan detil even untuk(kapan)
1.  FRAMEWORK SET OF RULES
The framework comes with a set of rules:
  • Rule 1 The columns have no order : Kolom yang dapat ditukar-tukar tanpa bias dikurangi atau ditambah
  • Rule 2 Each column has a simple generic model : Setiap kolom dapat memiliki meta model sendiri
  • Rule 3 The basic model of each column must be unique : Model dasar dari setiap kolom, relasi antar objek dan struktur unik. Setiap objek berhubungan saling bergantung tetapi merepresentasikan tujuan yang unik
  •  Rule 4 Each row describes a distinct, unique perspective : Setiap baris menggambarkan pandangan suatu kelompok usaha tertentu dan unik untuk itu. All rows are usually present in most hierarchical organization. Semua baris biasanya hadir dalam organisasi yang paling hirarkis.
  • Rule 5 Each cell is unique : Kombinasi dari 2,3 & 4 harus menghasilkan sel yang unik di mana setiap sel merupakan kasus tertentu. Contoh: A2 merupakankeluaran bisnis karena mereka mewakili apa yang menjadi akhirnya dibangun.
  • Rule 6 The composite or integration of all cell models in one row constitutes a complete model from the perspective of that row : Untuk alasan yang sama seperti untuk tidak menambahkan baris dan kolom, mengubah nama dapat mengubah struktur logis dasar Framework.
  • Rule 7 The logic is recursive : Logikanya adalah relasional antara dua contoh dari entitas yang sama.
2.  FLEXIBILITY IN LEVEL OF DETAIL
Salah satu kekuatan Kerangka Zachman adalah bahwa secara eksplisit menunjukkan seperangkat pandangan yang dapat ditangani oleh arsitektur enterprise. Beberapa merasa bahwa berikut model ini benar-benar dapat mengakibatkan terlalu banyak penekanan pada dokumentasi, artefak akan diperlukan untuk setiap satu dari tiga puluh sel dalam rangka.
John Zachman jelas menyatakan dalam dokumentasi nya, presentasi, dan seminar itu, sebagai kerangka kerja, ada fleksibilitas dalam apa kedalaman dan luasnya detil sangat diperlukan untuk setiap sel matriks berdasarkan pentingnya suatu organisasi. Sebuah mobil, yang tujuan bisnis mungkin memerlukan inventarisasi dan fokus proses-driven, bisa menemukan itu bermanfaat untuk memfokuskan upaya dokumentasi mereka pada kolom Apa dan Bagaimana. Sedangkan agen perjalanan perusahaan, yang bergerak lebih peduli dengan orang-orang dan peristiwa-waktu, bisa menemukan itu bermanfaat untuk memfokuskan upaya dokumentasi mereka pada kolom Siapa dan Kapan. Namun, tidak ada lolos dari Mengapa kolom’s pentingnya karena menyediakan driver bisnis untuk semua kolom lainnya.
3.  REASON USING ZACHMAN FRAMEWORK
Ada beberapa alasan yang menyebabkan Zachman Framework diadaptasi secara luas :
1.    Relatif sederhana karena hanya memiliki dua dimensi yang mudah untuk dipahami.
2.    Keduanya mengarahkan enterprise kedalam cara yang komprehensif dan mampu mengelola arsitektur untuk divisi individu maupun departemen.
3.    Menggunakan bahasa non teknis yang membantu orang untuk berfikir dan dan berkomunikasi secara lebih tepat.
4.    Dapat digunakan untuk mengkotakkan dan membantu memahami isu yang luas.
5.    Membantu menyelesaikan masalah desain, fokus terhadap detil tanpa kehilangan jalur secara keseluruhan.
6.    Membantu mengajarkan banyak topik sistem informasi yang berbeda.
7.    Merupakan alat perencanaan yang sangat membantu, menyediakan cara untuk pengambilan keputusan yang lebih baik.
8.    Merupakan alat atau metoda khusus yang independen.
Link

MANAJEMEN RANTAI PASOKAN (SUPPLY CHAIN MANAGEMENT) :

KONSEP DAN HAKIKAT

STUDY PADA PABRIK SEPATU

 widyatama

Oleh :

Baysondi Rosidharta

 Abstract - Perusahaan yang akan meningkatkan daya saing melalui penyesuaian produk, mutu tinggi, pengurangan biaya, dan kecepatan distribusi maka harus memperhatikan rantai pasokan (supply chain). Manajemen rantai pasokan (supply chain management) adalah pengintegrasian aktivitas pengadaan bahan dan pelayanan, pengubahan menjadi barang setengah jadi dan produk akhir, serta pengiriman ke pelanggan. Seluruh aktivitas ini mencakup aktivitas pembeliaan dan outsourcing, ditambah fungsi lain yang penting bagi hubungan antara pemasok dengan distributor. Tujuan utama dari SCM adalah pernyerahan atau pengiriman produk secara tepat waktu demi memuaskan konsumen, mengurangi biaya, meningkatkan segala hasil dari seluruh supply chain (bukan hanya satu perusahaan), mengurangi waktu, memusatkan kegiatan perencanaan dan distribusi. penerapan supply chain management di masa seperti ini cocok di terapkan, karena system ini memiliki kelebihan dimana mampu me-manage aliran barang atau produk dalam suatu rantai supply.

 Keywords—scm, rantai pasokan, manajemen, supply chain

I.  PENDAHULUAN

Persaingan dalam industri distributor makin ketat dewasa ini. Salah satu hal yang membuat perusahaan distributor bertahan adalah penyediaan produk yang tepat bagi konsumen di waktu yang tepat, dan dalam biaya ekonomis. Ketersediaan produk dan harga jual yang ekonomis hanya dapat terjadi jika ada koordinasi yang baik antara perusahaan retail dengan pihak-pihak dalam rantai suplainya. Koordinasi antara pihak-pihak dalam rantai suplai tidak hanya melibatkan koordinasi persediaan saja, tetapi juga informasi tentang pasar yang berguna bagi perencanaan perusahaan. Kekurangan persediaan produk pada distributor akan berakibat kehilangan penjualan, sedangkan kelebihan tertentu akan berakibat menumpuknya produk dan meningkatnya biaya pemeliharaan persediaan. Selain itu, koordinasi dengan toko-toko cabang sebagai salah satu mata rantai suplai adalah penting, dimana kantor pusat dapat berbagi

informasi dan mengumpulkan informasi mengenai masing-masing supllier agar pengelolaan suplai dan perencanaan penjualan produk dapat dilakukan dengan lebih baik. Dengan demikian peran serta supplier, perusahaan transportasi dan jaringan distributor adalah dibutuhkan. Kesadaran akan adanya produk yang murah, cepat dan berkualitas inilah yang melahirkan konsep baru tahun 1990-an yaitu Manajemen rantai pasokan / Supply Chain Management ( SCM ).

SCM adalah suatu konsep atau mekanisme untuk meningkatkan produktivitas total perusahaan dalam rantai suplai melalui optimalisasi waktu, lokasi dan aliran kuantitas bahan. Manufakturing, dalam penerapan supply chain management (SCM), perusahaan-perusahaan diharuskan mampu memenuhi kepuasan pelanggan, mengembangkan produk tepat waktu, mengeluarkan biaya yang rendah dalam bidang persediaan dan penyerahan produk, mengelola industri secara cermat dan fleksibel.

Sekarang ini konsumen semakin kritis, mereka menuntut penyediaan produk secara tepat tempat, tepat waktu. Sehingga menyebabkan perusahaan manufaktur yang antisipatif akan hal ini akan mendapatkan pelanggan sedangkan yang tidak antisipatif akan kehilangan pelanggan. Supply chain management menjadi satu solusi terbaik untuk memperbaiki tingkat produktivitas antara perusahaan-perusahaan yang berbeda

 1.1.   PENGERTIAN SCM

Istilah   supply   chain   dan   supply   chain management sudah menjadi jargon yang umum dijumpai di berbagai media baik majalah manajemen, buletin, koran, buku ataupun dalam diskusi-diskusi. Namun tidak jarang kedua term diatas di persepsikan secara salah. Banyak yang mengkonotasikan supply chain sebagai suatu software. Bahkan ada yang mempersepsikan bahwa supply chain hanya dimiliki oleh perusahaan manufaktur saja. Sebagai disiplin, supply chain management memang merupakan suatu disiplin ilmu

yang relative baru. Cooper (1997) bahkan menyebut istilah “supply chain management” baru muncul di awal tahun 90-an dan istilah ini diperkenalkan oleh para konsultan manajemen. Saat ini supply chain management merupakan menarik untuk didiskusikan bahkan mengundang daya tarik yang luar biasa baik dari kalangan akademisi maupun praktisi.

Supply chain dapat didefinisikan sebagai sekumpulan aktifitas (dalam bentuk entitas/fasilitas) yang terlibat dalam proses transformasi dan distribusi barang mulai dari bahan baku paling awal dari alam sampai produk jadi pada konsumen akhir. Menyimak dari definisi ini, maka suatu supply chain terdiri dari perusahaan yang mengangkut bahan baku dari bumi/alam, perusahaan yang mentransformasikan bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau komponen, supplier bahan-bahan pendukung produk, perusahaan perakitan, distributor, dan retailer yang menjual barang tersebut ke konsumen akhir.

Dalam supply chain ada beberapa pemain utama yang merupakan perusahaan yang mempunyai kepentingan yang sama, yaitu :

  1. Supplies
  2. Manufactures
  3. Distribution
  4. Retail Outlet
  5. Customers
  1. Chain 1: Supplier

Jaringan  bermula  dari  sini,  yang  merupakan sumber yang menyediakan bahan pertama, dimana rantai penyaluran baru akan mulai. Bahan pertama ini bisa dalam bentuk bahan baku, bahan mentah, bahan penolong, barang dagangan, suku cadang dan lain-lain.

2. Chain  1-2-3: Supplier-Manufactures- Distribution

Barang       yang     sudah   dihasilkan        oleh manufactures sudah mulai harus disalurkan kepada pelanggan. Walaupun sudah tersedia banyak cara untuk menyalurkan barang kepada pelanggan, yang umum adalah melalui distributor dan ini biasanya ditempuh oleh sebagian besar supply chain.

3. Chain  1-2-3-4: Supplier-Manufactures- Distribution-Retail Outlet

Pedagang besar biasanya mempunyai fasilitas gudang sendiri atau dapat juga menyewa dari pihak lain. Gudang ini digunakan untuk menyimpan barang sebelum disalurkan lagi ke pihak pengecer. Disini ada kesempatan untuk memperoleh penghematan dalam bentuk jumlah inventoris dan biaya gudang dengan cara melakukan desain kembali pola pengiriman barang baik dari gudang manufacture maupun ke toko pengecer.

4. Chain 1-2-3-4-5: Supplier-Manufactures Distribution-Retail Outlet-Customer

Para pengecer atau retailer menawarkan barang langsung kepada para pelanggan atau pembeli atau pengguna barang langsung. Yang termasuk retail outlet adalah toko kelontong, supermarket, warung-warung, dan lain-lain.

Secara sederhana rantai utama dalam proses SCM dapat digambarkan dibawah ini :

1

Gambar 1 Skema SCM dasar

 Ada 3 macam hal yang harus dikelola dalam supply chain yaitu :

  • Pertama, aliran barang dari hulu ke hilir contohnya bahan baku yang dikirim dari supplier ke pabrik, setelah produksi selesai dikirim ke distributor, pengecer, kemudian ke pemakai akhir.
  • Kedua, aliran uang dan sejenisnya yang mengalir dari hilir ke hulu dan
  • Ketiga adalah aliran informasi yang bisa terjadi dari hulu ke hilir atau sebaliknya. 

Secara sederhana sebuah model struktur Supply Chain dapat disederhanakan seperti nampak dalam Gambar dibawah ini :

2

Sedangkan Supply Chain Management (SCM) adalah merupakan aplikasi terpadu yang memberikan dukungan sistem informasi kepada manajemen dalam hal pengadaan barang dan jasa bagi perusahaan sekaligus mengelola hubungan diantara mitra untuk menjaga tingkat kesediaan produk dan jasa yang dibutuhkan oleh perusahaan secara optimal. SCM mengintegrasikan mulai dari pengiriman order dan prosesnya, pengadaan bahan mentah, order tracking, penyebaran informasi, perencanaan kolaboratif, pengukuran kinerja, pelayanan purna jual, dan pengembangan produk baru.

Jadi kalau supply chain adalah jaringan fisiknya, yakni perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam memasok bahan baku, memproduksi barang maupun mengirimkannya ke pemakai akhir, sedangkan SCM adalah metode, alat atau pendekatan pengelolaannya. Sebagai contoh supply chain produk sepatu sbb. :

3

Gambar 2 Alur Existing

1.2.   PERKEMBANGAN SCM

 Perkembangan SCM secara kompleks dari sebuah alur produsen sepatu diatas

4

 Gambar 3 Alur Rancangan Baru

Yang melatar belakangi berkembangnya konsep SCM adalah akselerasi perubahan lingkungan bisnis disebabkan berkembangnya secara cepat faktor-faktor penting, antara lain:

 A. Tuntutan konsumen yang semakin kritis

B. Infrastruktur telekomunikasi informasi, transportasi, dan perbankan yang semakin canggih memungkinkan berkembangnya model baru dalam aliran material /produk.

C. Daur hidup produk sangat pendek seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan pasar.

D. Kesadaran konsumen akan pentingnya aspek sosial dan lingkungan dalam kehidupan, menuntut industri manufaktur memasukkan konsep-konsep ramah lingkungan mulai dari proses perancangan produk, proses produksi maupun proses distribusinya

Menurut Ross, F.D (2003), awal perkembangan konsep SCM didasarkan pada dua fakta yaitu bahwa pada tahun 1960-an pabrikan dituntut untuk menurunkan biaya produksi dan perkembangan teknologi informasi khususnya internet yang mampu membantu merealisasikan suatu sistem terpadu sehingga mendorong perusahaan untuk melakukan efisiensi biaya bukan saja pada lingkup satu perusahan saja.

Supply Chain mencakup 3 bagian :

1. Upstream Supply Chain

Bagian ini mencakup supplier first-tier dari organisasi (dapat berupa perusahaan manufaktur atau asembling) dan suppliernya, yang didalamnya telah terbina suatu hubungan/relasi.

2. Internal Supply Chain

Bagian ini mencakup semua proses yang digunakan oleh organisasi dalam mengubah input yang dikirim oleh supplier menjadi output, mulai dari waktu material tersebut masuk pada perusahaan sampai pada produk tersebut didistribusikan, diluar perusahaan tersebut.

3. Downstream Supply Chain

 Bagian ini mencakup semua proses yang terlibat dalam pengiriman produk pada customer akhir.

 Aktivitas Manajemen Rantai Pasokan :

  1. Meramalkan permintaan pelanggan
  2. Membuat jadwal produksi
  3. Menyiapkan jaringan transportasi
  4. Memesan persediaan pengganti dari para pemasok
  5. Mengelola persediaan: bahan mentah, barang dalam proses dan barang jadi
  6. Menjalankan produksi
  7. Menjamin kelancaran transportasi sumber daya kepada pelanggan
    1. Melacak aliran sumber daya material, jasa, informasi, dan keuangan dari pemasok, di dalam perusahaan, dan kepada pelanggan.

1.3. TUJUAN UTAMA SCM

  1. Penyerahan / pengiriman produk secara tepat waktu demi memuaskan konsumen.
  2. Mengurangi biaya.
  3. Meningkatkan segala hasil dari seluruh supply chain (bukan hanya satu perusahaan).
  4. Mengurangi waktu.
  5. Memusatkan kegiatan perencanaan dan distribusi.

1.4.   MANFAAT SCM 

Apabila SCM diterapkan maka dapat memberi manfaat antara lain :

  1. Kepuasan pelanggan.

Konsumen atau pengguna produk merupakan target utama dari aktivitas proses produksi setiap produk yang dihasilkan perusahaan. Konsumen atau pengguna yang dimaksud dalam konteks ini tentunya konsumen yang setia dalam jangka waktu yang panjang. Untuk menjadikan konsumen setia, maka terlebih dahulu konsumen harus puas dengan pelayanan yang disampaikan oleh perusahaan.

2. Meningkatkan pendapatan

Semakin banyak konsumen yang setia dan menjadi mitra perusahaan berarti akan turut pula meningkatkan pendapatan perusahaan, sehingga produk-produk yang dihasilkan perusahaan tidak akan ‘terbuang’ percuma karena diminati konsumen.

3. Menurunnya biaya.

Pengintegrasian aliran produk dari perusahan kepada konsumen akhir berarti pula mengurangi biaya-biaya pada jalur distribusi.

4. Pemanfaatan asset semakin tinggi.

Aset terutama faktor manusia akan semakin terlatih dan terampil baik dari segi pengetahuan maupun keterampilan. Tenaga manusia akan mampu memberdayakan penggunaan teknologi tinggi sebagaimana yang dituntut dalam pelaksanaan SCM.

5. Peningkatan laba.

Dengan semakin meningkatnya jumlah konsumen yang setia dan menjadi pengguna produk, pada gilirannya akan meningkatkan laba perusahaan.

6. Perusahaan semakin besar.

Perusahaan yang mendapat keuntungan dari segi proses distribusi produknya lambat laun akan menjadi besar, dan tumbuh lebih kuat.

1.5.HAMBATAN DALAM SCM

  1. Incerasing Variety of Products.

Sekarang konsumen seakan dimanjakan oleh produsen, hal ini kita lihat semakin beragamnya jenis produk yang ada di pasaran. Hal ini juga kita lihat strategi perusahan yang selalu berfokus pada customer (customer oriented). Jika dahulu produsen melakukan strategi dengan melakukan pembagian segment pada customer, maka sekarang konsumen lebih dimanjakan lagi dengan pelemparan produk menurut keinginan setiap individu bukan menurut keinginan segment tertentu. Banyaknya jenis produk dan jumlah dari yang tidak menentu dari masing-masing produk membuat produsen semakin kewalahan dalam memuaskan keinginan dari konsumen.

2. Decreasing Product Life Cycles.

Menurunnya daur hidup sebuah produk membuat perusahan semakin kerepotan dalam mengatur strategi pasokan barang, karena untuk mengatur pasokan barang tertentu maka perusahaan membutuhkan waktu yang tertentu juga. Daur hidup produk diartikan sebagai umur produk tersebut dipasaran.

3. Increasingly Demand Customer.

Supply chain management berusaha mengatur (manage) peningkatan permintaan secara cepat, karena sekarang customer semakin menuntut pemenuhan permintaan yang secara cepat walaupun permintaan itu sangat mendadak dan bukan produk yang standart (customize).

4. Fragmentation of Supply Chain Ownership. Hal ini menggambarkan supply chain itu

melibatkan banyak pihak yang mempunyai masing-masing kepentingan, sehingga hal ini mebuat Supply chain mangement semakin rumit dan kompleks.

5. Globalization.

Globalisasi  membuat  supply  chain  semakin rumit dan kompleks karena pihak-pihak yang terlibat dalam supply chain tersebut mencakup pihak-pihak di berbagai negara yang mungkin mempunyai lokasi diberbagai pelosok dunia.

1.6. SOLUSI UNTUK MASALAH SCM

  1. Melakukan outsourcing (dengan menggunakan sumber dari pihak luar) daripada dilakukan sendiri selama ada permintaan yang meningkat.
  2. Membeli input secara langsung daripada harus memproduksi lebih dahulu.
  3. Menciptakan ”strategic partnership” dengan supplier.
  4. Menggunakan pendekatan ”just in time” dalam melakukan pembelian, yang mana supplier mengirimkan kuantitas / dalam jumlah kecil material yang dibutuhkan.
  5. Mengurangi waktu tunggu selama pembelian dan penjualan.
  6. Menggunakan supplier sedikit/seminimum mungkin.
  7. Memperbaiki hubungan antara supplier dan buyer.
  8. Melakukan proses produksi setelah ada order.
  9. Mencapai permintaan yang akurat melalui kerjasama yang lebih dekat dengan supplier.

 

1.7. MEMBANGUN SCM 

Untuk  membangun  suatu  sistem  manajemen rantai pasokan yang optimal, kita harus perhatikan lima hal dasar sebagai-berikut :

  1. Perencanaan – ini merupakan proses awal yang strategis, harus dipikirkan mulai dari awal bagaimana membuat suatu tolok ukur untuk menentukan tingkat efisiensi, harga, kualitas, dan nilai pada pelanggan
  2. Pemasokan – pilihlah pemasok-pemasok yang paling baik, dan tentukan tolok ukur untuk menjaga kualitas, komitmen, penerimaan barang, pemeriksaan, pemindahan ke pabrik, serta pembayaran
  3. Pembuatan – yang ini merupakan langkah pabrikasi, tentukan langkah2 yang diperlukan untuk pembuatan, pemeriksaan, pemaketan, dan persiapan pengiriman. Tentukan tolok ukur yang jelas tentang tingkat kualitas, tingkat produksi, dan produktivitas karyawan
  4. Pengantaran – bagian ini disebut juga logistik.    dalam supply chain untuk meningkatkan pelayanan Atur penerimaan pesanan dari pelanggan, buat jaringan pergudangan, pilih ekspedisi pengiriman barang ke arah pelanggan, dan juga masalah pembayaran.
  5. Pengembalian – bagian ini menangani masalah pengembalian barang cacat atau produksi berlebih dari pelanggan

2. PENERAPAN (SCM) 

Dalam   hal   ini   penerapan   supply   chain management di masa seperti ini cocok di terapkan, karena system ini memiliki kelebihan dimana mampu me-manage aliran barang atau produk dalam suatu rantai supply. Dalam hal ini, model SCM mengaplikasikan bagaimana suatu jaringan kegiatan produksi dan distribusi dari suatu perusahaan dapat bekerja bersama-sama untuk memenuhi tuntutan konsumen.

Penggunaan SCM bagi perusahaan-perusahaan beberapa bidang di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, saat ini masih sangat terbatas. Dimana hubungan antara setiap sub sistem yang terlibat pada umumnya masih tersekat-sekat, sehingga sulit untuk bersaing di pasar bebas. Hal tersebut dapat dilihat antara sub sistem hulu sampai dengan sub sistem hilir yang disebabkan oleh sub sistem banyak diperankan oleh pengusaha dalam skala produksi kecil, dan tidak memiliki posisi tawar yang kuat.

Di Indonesia bisa diterapkan secara maksimal dengan memperbaiki beberapa kekurangan yang menghambat system ini, dalam hal ini solusi yang dapat dilakukan yaitu harus mentransformasikan struktur yang tersekat dan terpisah tersebut kepada struktur integrasi yang vertikal. Hal tersebut dimaksudkan untuk memadukan sub sistem hulu sampai dengan hilir dalam satu keputusan manajemen. Upaya tersebut dikembangkan dengan bentuk-bentuk yang mampu mengakomodasi pelaku-pelaku industri dari setiap sub sistem yang ada. Beberapa langkah yang bisa diambil untuk perbaikan system sehingga SCM ini dapat berkembang secara baik di Indonesia antara lain :

  1. Penekanan pada upaya pembangunan dan pemeliharaan dalam rantai, yaitu pembentukan hubungan antar rantai agar lebih spesifik, misalnya pada volume, mutu, distribusi, tergantung kekurangan pada bidang usaha sehingga terbentuk pola yang terpadu dan saling terkait;
  2. Pengontrolan terhadap persediaan pasokan harus dilakukan sehingga effisien dalam biaya, misalnya dalam hal ini jumlah pasokan disesuaikan dengan jumlah produk yang dapat dijual yang menghasilkan kestabilan persediaan bahan baku dan tidak terjadi penumpukan stok yang berakibat pada peningkatan biaya penyimpanan;
  3. Dalam penentuan lokasi dan transportasi dalam rantai jaringan dibuat dengan perhitungan dan memperhatikan dampak terhadap biaya persediaan, dalam hal ini akan berpengaruh pada tingkat kepekaan konsumen, oleh karena itu evaluasi terhadap hal ini sangat perlu dilakukan;
  4. Pembentukan system informasi antara yang bertugas dalam pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, dan penyebarluasan informasi kepada setiap stakeholder yang dilandasi dengan kepercayaan, dengan ini akan mendukung kinerja dan produktivitas dari masing masing anggota rantai. 

Dalam penerapan SCM ini perlu juga memperhatikan hal-hal yang perlu dihindari yang akan menghambat system ini, hal-hal tersebut antara lain;

  1. Pengukuran kinerja yang tidak didefinisikan dengan baik.
  2. Customer service tidak didefinisikan dengan jelas, dan tidak ada ukuran keterlambatan respon dalam pelayanan.
  3. Status data pengiriman yang terlambat dan tidak akurat
  4. Sistem informasi tidak efisien.
  5. Dampak ketidakpastian diabaikan.
  6. Kebijakan inventori terlalu sederhana.
  7. Koordinasi antar aktivitas suplai, produksi,dan pengiriman tidak bagus.
  8. Analisis metode metode pengiriman tidak lengkap.
  9. Definisi ongkos ongkos persediaan tidak tepat.
  10. Adanya kendala komunikasi antar organisasi. 

Memang saat ini di Indonesia penerapan SCM ini belum bisa dikembangkan karena mungkin terjadi kendala seperti yang disebutkan di atas, tapi dengan mengidentifikasi system yang menjadi kendala dan memperbaiki system tersebut dan mentaati semua aturan dari Supply Chain Management diyakini perkembangan industri di Indonesia akan semakin maju karena system ini sudah teruji di beberapa Negara maju dalam sector industrinya. Inti dari system ini adalah koordinasi antar rantai dan juga pemikiran untuk memaksimalkan kinerja untuk kepuasan antar rantai, dan juga kepercayaan didalam rantai tersebut.

3. KESIMPULAN 

Adanya Supply Chain Management dalam perusahaan dimungkinkan peningkatan efektifitas dan efisiensi dalam proses pembelian bahan baku, pemenuhan pesanan customer serta proses distribusi barang jadi. Penerapan supply chain management di masa seperti ini cocok di terapkan, karena system ini memiliki kelebihan dimana mampu me-manage aliran barang atau produk dalam suatu rantai supply

 download didieu

 

suka duka di widyatama

postingan kedua ini saya akan membahas mengenai suka dan duka di kampus widyatama,

widyatama sebuah universitas swasta yang tidak muda usianya, terbukti telah meluluskan banyak mahasiswa dengan kemampuan yang cukup baik di bidang kerjanya. widyatama bertempat di bandung, jalan cikutra yang memiliki cuaca yang cukup sejuk saat ini dibanding kota lainya, alasan itulah yang membuat saya betah dan menikmati sekali ketika saya sedang berada pada kampus ini, saat ini saya berdomisili dijakarta dengan cuaca yang cukup panas, maka dari itu saya menikmati sekali suasananya yang sejuk tenang tersebut, namun dengan adanya hal tersebut tidak menutup kemungkinan adanya sebuah duka dalam kampus ini, salah satunya mengenai jadwal yang kurang konsisten pada kelas karyawan ini, iya emang enak bisa dimaju mundurkan sesuka mahasiswa, namun hal tersebut malah menjadi boomerang ke para dosen dikarenakan mahasiswa yang terlalu santai dengan hal itu menjadikanya semena mena dan kurang memiliki rasa tanggung jawab terhadap hal tersebut. selain itu dalam mendapatkan ilmu jujur saya menilai sangat kurang dibanding dengan kelas regular namun dalam tugas dan kuis memiliki bobot yang sama, disitu saya merasa berat ketika sedang mengerjakan tugas yang diharapkan oleh dosen namun tidak sesuai dengan penangkapan saya mengenai materi yang disampaikan oleh dosen. mungkin itu sedikit suka maupun duka saya dalam menuntut ilmu di widyatama.

terima kasih.

Kenapa Masuk Widyatama

saya baysondi,

judul postingan saya kali ini mengenai alasan saya masuk dalan universitas widyatama. jujur mungkin kalian sesama mahasiswa kelas karyawan yang dari diploma telah mengetahui apa alasan dasar saya masuk di ekstensi widyatama yaitu untuk menambah jenjang karir yang sebelumnya diploma ingin menjadi sarjana, dimana pekerjaan dan salary nya pun beda bisa bertambah dan dipisisikan ke tempat yang lebih baik, bukan berarti lulus S1 dapet kerja enak dan banyak gaji, namun lebih untuk menambah spesifikasi kita tentang pandangan perusahaan terhadap ilmu kita, ya semua tergantung usaha dan do’a, iya emang benar, namun jika kita hanya mengandalkan doa sedangkan kita sendiri tidak berusaha lebih baik, dari mana jalan untuk majunya.

kemudian kenapa saya memilih widyatama sebagai kampus pilihan saya, sebelum itu saya memberitahu bahwa saya adalah alumni politeknik telkom (D3), saya lulus pada bulan juni 2015 dan mendapatkan ijasah pada bulan agustus, maka dari itu saya mendaftarkan diri ke widyatama selain karena jurusan informatika nya terakreditasi (B), untuk jadwal penerimaan mahasiswa baru kelas karyawan lebih lambat dari kampus lainya, sehingga saya berminat untuk mendaftarkan beserta melampirkan segala syarat yang harus saya bawa, termasuk bisa menggunakan surat keterangan lulus (SKL) dulu sebelum mendapatkan ijasah asli.

Terima kasih

itulah alasan singkat saya kenapa saya memilih widyatama sebagai kampus pilihan untuk ekstensi saya

Selamat Menulis

Selamat Datang di Dunia Blog, dan selamat menulis…

Pengelola blog kembali mengingatkan akan peraturan pemakaian Blog Universitas Widyatama Bandung adalah sebagai berikut :

  1. Blog ini merupakan milik Universitas Widyatama termasuk didalamnya seluruh sub domain yang digunakan sehingga apa yang terdapat didalam blog ini secara umum akan mengikuti aturan dan kode etik yang ada di Universitas Widyatama Bandung.
  2. Blog ini dibuat dengan menggunakan aplikasi pihak ke tiga (WordPress), dan lisensi plugin plugin didalamnya terikat terhadap developer pembuat plugin tersebut.
  3. Blog ini dapat digunakan oleh Karyawan, Dosen dan Mahasiswa Universitas Widyatama Bandung.
  4. Dilarang melakukan registrasi username atau site/subdomain blog dengan menggunakan kata yang tidak pantas.
  5. Dilarang memasukkan konten dengan unsur SARA, pornografi, pelecehan terhadap seseorang ataupun sebuah institusi.
  6. Dilarang menggunakan blog ini untuk melakukan transaksi elektronik dan pemasangan iklan.
  7. Usahakan sebisa mungkin untuk melakukan embed video atau gambar di bandingkan dengan melakukan upload secara langsung pada server.
  8. Pelanggaran yang dilakukan akan dikenakan sanksi penutupan blog dan atau sanksi yang berlaku pada aturan Universitas Widyatama sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan.
  9. Administrator berhak melakukan pembekuan account tanpa pemberitahuan terlebih dahulu jika dianggap ada hal hal yang melanggar peraturan.
  10. Aturan yang ada dapat berubah sewaktu waktu.

Beberapa Link terkait Universitas Widyatama

  1. Fakultas Ekonomi - http://ekonomi.widyatama.ac.id
  2. Fakultas Bisnis & Manajemen – http://manajemen.widyatama.ac.id
  3. Fakultas Teknik – http://teknik.widyatama.ac.id
  4. Fakultas Desain Komunikasi Visual – http://dkv.widyatama.ac.id
  5. Fakultas Bahasa – http://bahasa.widyatama.ac.id

Layanan Digital Universitas Widyatama

  1. Biro Akademik – http://akademik.widyatama.ac.id
  2. Rooster Kuliah – http://rooster.widyatama.ac.id
  3. Portal Mahasiswa – http://mhs.widyatama.ac.id
  4. Portal Dosen – http://dosen.widyatama.ac.id
  5. Digital Library – http://dlib.widyatama.ac.id
  6. eLearning Portal – http://learn.widyatama.ac.id
  7. Dspace Repository – http://repository.widyatama.ac.id
  8. Blog Civitas UTama – http://blog.widyatama.ac.id
  9. Email – http://email.widyatama.ac.id
  10. Penerimaan Mahasiswa Baru – http://pmb.widyatama.ac.id/online

Partner UTama

  1. Putra International College – http://www.iputra.edu.my
  2. Troy University – http://www.troy.edu
  3. Aix Marsielle Universite – http://www.univ-amu.fr
  4. IAU – http://www.iau-aiu.net/content/institutions#Indonesia
  5. TUV – http://www.certipedia.com/quality_marks/9105018530?locale=en
  6. Microsoft – https://mspartner.microsoft.com/en/id/Pages/index.aspx
  7. Cisco – http://www.cisco.com/web/ID/index.html
  8. SAP – http://www.sap.com/asia/index.epx
  9. SEAAIR – http://www.seaair.au.edu

Academic Research Publication

  1. Microsoft Academic  -  http://academic.research.microsoft.com/Organization/19057/universitas-widyatama?query=universitas%20widyatama
  2. Google Scholar – http://scholar.google.com/scholar?hl=en&q=Universitas+Widyatama&btnG=

Info Web Rangking

  1. Webometric – http://www.webometrics.info/en/detalles/widyatama.ac.id
  2. 4ICU – http://www.4icu.org/reviews/10219.html